Oleh: Dr Rolina Emmy Manggopa.M.Pd, Decire Dumingkan Wagiu, S.S., M.Hum, Jeane Christine Lasut, SH.,MH.
Dosen Politeknik Negeri Manado
Penggunaan metode mengajar akan menentukan corak pembelajaran mahasiswa di dalam kelas. Dengan demikian perlu kiranya dikembangkan metode-metode atau teknik-teknik perkuliahan yang tepat dan variatif. Jika dengan metode perkuliahan yang monoton, mahasiswa akan semakin tidak menyukai dan tidak termotivasi untuk belajar bahasa Inggris maka diperlukan metode perkuliahan yang memungkinkan mereka merasa tertarik dan termotivasi untuk belajar bahasa Inggris sehingga tercipta keinginan dalam mempelajari bahasa Inggris secara maksimal. Seperti;
Task-based Language Teaching
Task-Based Language Teaching (TBLT). Secara sederhana dapat didefinisikan bahwa TBLT adalah sistem pengajaran bahasa yang terfokus pada tugas-tugas yang diberikan kepada siswa. Tugas-tugas (soal-soal/ aktivitas-aktivitas) yang diberikan adalah pusat dari aktivitas pengajaran bahasa. Secara empiris bisa dikatakan pemberian masalah atau soal kepada mahasiswa akan menjadi tolak ukur untuk kemampuan dan pemahaman siswa terhadap suatu materi. Dengan metode ini peran dosen sebagai supervisor akan lebih dioptimalkan.
Task Based Language Teaching (TBLT) is an approach which offers students material which they have to actively engage in the processing of in order to achieve a goal or complete a task. Much like regular tasks that we perform everyday such as making the tea, writing an essay, talking to someone on the phone, TBLT seeks to develop students’ interlanguage through providing a task and then using language to solve it.
TBLT merupakan sebuah metode yang memiliki beragam teknik yang bernaung di bawah payung pendekatan pengajaran bahasa komunikatif. TBLT bukanlah sebuah metode yang baru, Prabhu menggunakan TBLT sebagai metode pada sekolah menengah di Bangalore, India pada sebuah proyek Pengajaran Komunikasi tahun 1979.
TBLT mengusulkan menggunakan task/tugas sebagai pusat komponen utama dalam kelas yang mengajarkan bahasa. Karena task mampu memberikan konteks yang lebih baik untuk meningkatkan proses akusisi dan memperkenalkan bahasa target. Richards dan Rodgers menyarankan bahwa task dipercaya mampu mendorong proses modifikasi, mengulang, dan eksperimen dan berperan seperti laksana jantung dalam proses pengajaran bahasa target. Ellis memberikan gambaran tentang task dalam empat karakteristik yaitu 1) fokus utama pada makna (pragmatic). 2). Memiliki beberapa jenis ‘gap’. 3). Para mahasiswa ( participants) memilih sumber-sumber linguistic yang dibutuhkan untuk melengkapi tugas-tugas. 4). Memiliki hasil yang jelas.
Kris Van den Braden berpendapat task sebagai berikut: 1) Task adalah suatu kegiatan atau tindakan yang dilakukan sebagai tanggapan dari hasil pengolahan atau pemahaman bahasa. Misalnya, menggambar peta yang dipandu dengan memperdengarkan kaset. Penggunaan berbagai macam task dalam pengajaran bahasa memiliki tujuan agar pengajaran lebih komunikatif; 2) Task adalah sebuah kegiatan yang dilakukan peserta didik untuk memahami informasi yang diberikan melalui beberapa proses pembelajaran dan memungkinkan guru untuk mengontrol dan mengatur proses tersebut; 3) Task adalah suatu kegiatan yang: a) makna adalah utama, b) ada beberapa masalah komunikasi untuk dipecahkan, c) ada semacam hubungan untuk membandingkan dengan aktivitas dunia nyata.
Metode TBLT memiliki tiga tahapan dalam kegiatan belajar mengajar yaitu: tahap pre-task, tahap during task, dan tahap post-task. Tahap pre-task memiliki tujuan agar menyiapkan pembelajar untuk keterampilan pada during task. Rod Ellis menggaris bawahi pentingnya penyajian task dengan suatu cara yang dapat memotivasi pembelajar, seperti menjelaskan dan kegunaan tugas yang akan dipelajari. Jane Willis memilah tahapan pre-task menjadi tiga proses, 1) memperkenalkan topik, 2) membantu mahasiswa untuk mengingat dan menggiatkan kata dan prase yang akan digunakan saat mengerjakan task dan diluar kelas dalam bentuk kegiatan : mengklasifikasikan kata dan frase, mengeluarkan yang ganjil/aneh, menjodohkan frase dengan gambar, tes daya ingat, urun rembuk, peta pikiran, memikirkan apa yang mau ditanyakan, menganggap cerita yang sama, dan 3) memastikan bahwa semua mahasiswa memahami tujuan dan hasil yang diinginkan task. Berikut ini diberikan tahapan during task. Tahapan ini terdiri dari tiga langkah. 1) Mahasiswa melakukan tugas baik secara berpasangan atau kelompok. dosen memonitor dan mendorong proses mengerjakan tugas. Menghentikan task ketika sebagian besar telah menyelesaikannya. 2) Mahasiswa membuat laporan tulisan maupun lisan kepada seluruh peserta kelas apa yang telah mereka lakukan, putuskan, dan temukan. Peranan dosen pada saat ini adalah sebagai penasihat linguistik, memberikan masukan. Membantu mahasiswa dalam mengoreksi, memperbaiki kalimat, dan membimbing saat membuat laporan. 3). Dosen memilih beberapa kelompok untuk menampilkan laporan mereka di depan kelas baik secara lisan maupun tulisan. Tahapan post-task adalah tahapan terakhir. Ada tiga hal yang harus diperhatikan pada post task yaitu: pertama memberikan kesempatan untuk mengulang tampilan task. Kedua mendorong proses refleksi terhadap tampilan yang telah dilakukan. Ketiga mendorong pembelajar memperhatikan tata bahasa, yang menjadi permasalahan ketika mereka menampilkan task.
DAFTAR PUSTAKA
Hopkins David. A Teacher’s Guide To Classroom Research. Open University Press; Philadephia, 1992.
Kris van Den Branden, Martin Bygate, John Norris. Task-Based Language Teaching, A Reader. Philadephia, John Benjamins Publishing Comp,
Littlewood .William. Communicative Language Teaching.USA. Cambridge University Press, 1981.
Nunan,David.Communicative Tasks For The Communicative Classroom. Cambridge: Cambridge University Press, 1991.ambridge University Press. 2002.
Richard, J.C.and Renandya, W.A. Methodology in Language Teaching, Cambridge: Cambridge University Press, 2002.
\Willis, J. A framework for task-based learning. Harlow, U.K. Longman Addison- Wesley, 1996.











