Maestro Musik Bambu Putra Kelahiran Desa Lenganeng Agustinus Sasundu

Seni dan Budaya727 Dilihat

Sangihe – Ekuatornews.com. – Agustinus Sasundu putra kelahiran kampung (Desa) Lenganeng 17 Agustus tahun 1950 adalah seorang maestro musik bambu tradisional asal Sangihe yang telah mengukir namanya dalam dunia seni musik Indonesia.

Dengan keahlian dan dedikasinya, Agustus  disebut dengan sapaan akrab engku Utu atau om Utu berhasil mengangkat alat musik bambu, seperti suling dan tifa, ke panggung yang lebih luas. Melalui penampilan dan karya-karyanya, ia menunjukkan betapa kayanya warisan budaya Sangihe, sekaligus memperkenalkan nuansa unik dari musik tradisional daerah tersebut.

Dalam setiap penampilannya, Agustinus selalu menonjolkan keindahan nada yang dihasilkan dari bambu, menciptakan melodi yang menenangkan dan menggugah jiwa.

Ia tidak hanya fokus pada aspek teknis bermain alat musik, tetapi juga menyisipkan cerita dan nilai-nilai budaya yang mendalam. Dengan cara ini, ia berhasil menciptakan keterhubungan emosional antara penonton dan musik yang ia mainkan, menjadikan setiap pertunjukan sebagai pengalaman yang tak terlupakan.

Selain itu, Agustinus juga aktif dalam melestarikan dan mengajarkan musik bambu kepada generasi muda. Ia percaya bahwa melestarikan tradisi adalah tanggung jawab bersama, dan melalui workshop serta kolaborasi, ia berusaha menularkan kecintaannya terhadap musik bambu.

Dengan semangat tersebut, Agustinus tidak hanya berperan sebagai seorang seniman, tetapi juga sebagai pelestari budaya yang menginspirasi banyak orang untuk mengenal dan menghargai kekayaan seni tradisional Sangihe.

Agustinus memang dikenal memiliki daya tarik yang luas, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di luar negeri, termasuk Prancis. Karya-karyanya sering kali menggabungkan elemen budaya lokal dengan perspektif universal, membuatnya relevan bagi pembaca dari berbagai latar belakang. Hal ini menunjukkan bahwa seni dan sastra dapat menjembatani berbagai budaya dan negara.

Hasil karya Agustinus memang menarik perhatian internasional, termasuk warga Prancis. Salah satu contohnya adalah alat tiup musik bambu yang beliau ciptakan, yang kemudian dibeli oleh seorang warga Prancis dan ditempatkan di museum. Hal ini menunjukkan bagaimana budaya lokal dapat diapresiasi secara global dan menjadi bagian dari warisan seni dunia. Karya-karya seperti ini tidak hanya memperkenalkan tradisi Indonesia, tetapi juga membangun jembatan antara budaya yang berbeda.

 

(*Udy)