
Manado, EkuatorNews.com — Kepala Sentra Tumou Tou Manado, Dra. Meerada Saryati Aryani, M.Si, buka-bukaan soal gagasan besar di balik hadirnya Sekolah Rakyat, program pendidikan gratis untuk anak-anak dari keluarga miskin ekstrem.
Ia menyampaikan, program ini merupakan langkah serius Presiden Prabowo dalam memutus rantai kemiskinan, bukan hanya sekadar bagi-bagi bantuan sosial yang sifatnya sementara.
“Presiden melihat langsung, banyak anak-anak yang ingin sekolah tapi terhambat karena kondisi ekonomi. Bantuan sekali-sekali tidak akan menyelesaikan akar masalah ini,” ujar Meerada saat diwawancarai di Sentra Tumou Tou, Manado.
Menurutnya, pendidikan adalah kunci keluar dari lingkaran kemiskinan. Karena itu, anak-anak dari keluarga desil 1 (kategori termiskin) yang tidak sekolah atau putus sekolah akan diprioritaskan untuk masuk ke Sekolah Rakyat.
“Kami diinstruksikan untuk mencari anak-anak yang masuk kategori itu, lalu kami petakan sesuai jenjang pendidikan SD atau SMP. Di Manado, kebanyakan yang kami temukan adalah usia SMP,” jelasnya.
Prosesnya pun sangat teknis dan menyeluruh. Dimulai dari pendataan oleh pendamping PKH, diverifikasi oleh BPS, lalu disaring lagi hingga mendapatkan data akurat. Di Kota Manado, hasilnya muncul sekitar 120 anak calon siswa.
“Setelah data anak-anak ini ada, kami serahkan ke Pak Wali Kota untuk ditetapkan jadi calon siswa Sekolah Rakyat. Lalu kami datangi orang tua satu per satu untuk tanda tangan persetujuan, termasuk kesediaan anaknya untuk tinggal di asrama,” lanjut Meerada.
Namun, proses seleksi tidak berhenti sampai di situ. Anak-anak juga harus menjalani pemeriksaan kesehatan, dan banyak di antaranya ternyata punya masalah kesehatan. Tapi menurut Meerada, itu bukan halangan.
“Mereka tetap kami terima. Kalau ada yang sakit, langsung ditangani dokter dan perawat. Di sini fasilitasnya lengkap, jadi orang tua tidak perlu khawatir,” katanya meyakinkan.
Saat ini, sudah ada 75 siswa pertama yang mulai belajar dan tinggal di asrama. Tantangan pun cukup besar, baik bagi siswa maupun pengelola.
“40 hari pertama itu masa penyesuaian. Anak-anak belajar beradaptasi, kami juga. Karena jujur saja, ini bukan cuma program pendidikan, tapi juga pengasuhan 24 jam. Tapi kami sudah biasa melayani, dan untuk program sebesar ini, kami siap,” tutup Meerada dengan semangat.
Sekolah Rakyat ini bukan sekadar tempat belajar, tapi harapan baru untuk anak-anak yang selama ini terpinggirkan. Sebuah langkah nyata pemerintah untuk membangun masa depan dari dasar yang paling mendasar, pendidikan.
(Benny Manoppo)














