Rumah Tradisional Sangihe Bukan Sekadar Bangunan, Bupati Thungari: Ini Identitas dan Ruang Hidup

Sangihe96 Dilihat

 

Sangihe, Ekuatornews.com – Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe terus mendorong upaya pelestarian budaya daerah melalui penggalian kembali nilai-nilai budaya yang mulai tergerus perkembangan zaman.

 

Hal tersebut mengemuka dalam Seminar Budaya dengan subtema “Penemuan Kembali Rumah Tradisional Sangihe sebagai Ruang Hidup dan Identitas Budaya” yang digelar di Ruang Serbaguna Rumah Dinas Bupati Kepulauan Sangihe, Selasa (29/9/2026).

 

Seminar tersebut secara resmi dibuka oleh Bupati Kepulauan Sangihe Michael Thungari, S.E., M.M. yang sekaligus menyampaikan sambutan mengenai pentingnya menjaga keberadaan rumah tradisional sebagai bagian dari identitas masyarakat Sangihe.

 

Dalam pandangan Bupati, rumah tradisional tidak semata-mata dipandang sebagai bangunan fisik atau peninggalan masa lalu. Lebih dari itu, rumah tradisional merupakan ruang hidup yang menyimpan pengetahuan, nilai sosial, kearifan lokal, serta perjalanan kehidupan masyarakat Sangihe dari satu generasi ke generasi berikutnya.

 

Karena itu, menurutnya, upaya menemukan dan mengenali kembali rumah tradisional Sangihe menjadi bagian penting dalam menjaga akar budaya masyarakat.

 

“Rumah tradisional bukan sekadar bangunan, tetapi merupakan ruang hidup yang merekam pengetahuan, nilai sosial, kearifan lokal dan perjalanan kehidupan masyarakat dari generasi ke generasi,” demikian pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.

 

Bupati berharap seminar budaya tidak berhenti sebatas forum diskusi, tetapi dapat melahirkan langkah konkret untuk menggali, mendokumentasikan, melestarikan sekaligus memperkenalkan kembali arsitektur dan nilai filosofis rumah tradisional Sangihe kepada masyarakat.

 

Terutama kepada generasi muda yang dinilai memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya daerah.

 

Seminar menghadirkan tiga pembicara, yakni Ketua Dewan Adat Lukman Makapuas, S.Pd., Sesepuh Adat Niklas Mehare, serta Soleman Bakir, S.T. selaku penggagas kegiatan.

 

Ketiganya membagikan perspektif mengenai keberadaan rumah tradisional Sangihe, nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya hingga tantangan pelestariannya di tengah perubahan zaman.

 

Kegiatan tersebut turut dihadiri Yubelita Andriani Tudus, S.Si., pejabat fungsional yang mewakili Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Sulawesi Utara, bersama unsur adat dan para peserta seminar.

 

Kehadiran pemerintah, lembaga adat, pemerhati budaya, masyarakat serta instansi terkait memperlihatkan bahwa pelestarian budaya membutuhkan kolaborasi lintas unsur.

 

Melalui seminar tersebut, rumah tradisional Sangihe diharapkan tidak hanya diposisikan sebagai peninggalan sejarah yang dikenang, tetapi kembali ditempatkan sebagai ruang hidup, simbol jati diri dan sumber pengetahuan budaya masyarakat Sangihe.

 

Warisan tersebut dinilai penting untuk terus dikenali, dirawat dan diwariskan agar tetap hidup serta relevan bagi generasi mendatang.

 

(*udy)