
KAIMANA, EkuatorNews.com – Keluarga Suku Napiti mengadakan kegiatan lestarikan dan wariskan budaya “OTEPURI” bagi generasi muda di Rumah Kediaman Kepala Suku Napiti, Sabtu (10/1/2026).
Dalam sambutannya, Kepala Suku Napiti Frans Amerbay mengatakan kegiatan ini merupakan salah satu langkah untuk melestarikan budaya Otepuri bagi generasi muda.
“Ote itu kayu dan puri itu pamali, jadi Otepuri adalah kayu pamali (Terlarang),” ujar Frans Amerbay.
Lebih lajut, Frans Amerbay menjelaskan tradisi Otepuri merupakan tradisi Suku Napiti, kamoro sampai ke Suku Marind.
“Ada latar belakang yang mendasar kenapa tradisi Otepuri itu dilaksanakan yakni laki-laki bagi suku Napiti dan mungkin di rata-rata semua suku di Tanah Papua merupakan simbol sentral karena membawa marga, namun dengan penghargaan tersebut terkadang laki-laki sering bertingkah semena-mena dan korbannya kebanyakan wanita,” tuturnya.

“Otepuri sebenarnya diadakan untuk perempuan bisa balas dendam, mereka diberikan kesempatan memukul dengan kayu kepada orang yang berlaku kasar untuk mereka seperti mertua, suami dan lainya disekitar agar bisa hidup kembali dengan rasa saling menghargai,” tambanya.
Frans Amerbay melanjutkan, setelah tradisi Otepuri biasanya dilakukan karin atau mandi sagu.
“Secara tradisional sebenarnya biasa dilakukan menggunakan sagu atau lumpur, sebagai pengingat juga kalau kita semua berasal dari tanah serta sagu dan lumpur lebih ramah lingkungan karena berasa dari alam,”ungkapnya.
Namun, Frans menyebutkan hari ini tradisi tersebut akan dilakukan menggunakan bedak.

Frans Amerbay menambahkan hal ini juga merupakan langkah promosi budaya Suku Napiti.
“Kita berharap semoga kedepan tradisi ini bisa dilaksanakan ditingkat Kabupaten Kaimana dan disandingkan dengan budaya dari 8 Suku Asli Kaimana,” harapnya.
Turut hadir pada kegiatan ini, Beberapa Kepala Suku Asli Kaimana, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Kaimana, Dewan Adat, dan tamu undangan lainnya.(REI)








