
Penulis: Ketua Pemuda Muslim Kaimana, Anwar Junaidy Abidin Ombaier
KAIMANA, EkuatorNews.com – Setiap tanggal 22 April, dunia memperingati Hari Bumi sebagai pengingat bahwa bumi bukan sekadar tempat tinggal, melainkan rumah besar bagi seluruh makhluk hidup.
Namun, pertanyaannya adalah: apakah kita benar-benar sudah memperlakukan bumi dengan baik?
Bagi umat Muslim, menjaga alam bukan hanya tindakan sosial atau tren lingkungan, tetapi merupakan bagian dari ajaran agama.
Dalam Islam, manusia disebut sebagai khalifah di bumi, yaitu pemimpin dan penjaga yang diberi amanah oleh Allah SWT. Artinya, manusia bukan pemilik mutlak bumi yang bebas merusak, melainkan penjaga yang harus bertanggung jawab.
Kerusakan lingkungan seperti banjir, polusi udara, hutan gundul, dan sampah plastik adalah tanda bahwa banyak manusia telah lalai menjalankan tugasnya sebagai khalifah.
Allah SWT juga melarang perbuatan merusak. Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa kerusakan di darat dan laut terjadi karena ulah manusia.
Hal ini seharusnya menjadi teguran bagi kita semua. Jika alam rusak, maka yang merasakan dampaknya bukan hanya satu orang, melainkan seluruh masyarakat. Bahkan generasi masa depan pun bisa ikut menjadi korban.
Hari Bumi menjadi momentum penting bagi umat Muslim untuk merenungkan: apakah gaya hidup kita sudah sesuai dengan nilai Islam? Misalnya, masih banyak orang yang boros air padahal air adalah nikmat besar.
Dalam ajaran Islam, bahkan ketika berwudhu pun kita dianjurkan untuk tidak berlebihan. Ini menunjukkan bahwa Islam sejak dulu sudah mengajarkan prinsip ramah lingkungan, jauh sebelum isu pemanasan global ramai dibicarakan.
Selain itu, Islam juga mengajarkan kebersihan sebagai bagian dari iman. Sayangnya, masih banyak tempat umum yang kotor karena sampah dibuang sembarangan.
Padahal, membuang sampah pada tempatnya adalah bentuk sederhana dari ibadah sosial. Menanam pohon, mengurangi plastik, hemat listrik, dan menjaga sungai tetap bersih adalah amal yang nilainya besar karena manfaatnya dirasakan banyak makhluk.
Menjaga bumi juga berarti menghargai ciptaan Allah. Alam bukan musuh manusia, melainkan tanda kebesaran Tuhan. Jika kita mencintai Allah, seharusnya kita juga menghargai apa yang Dia ciptakan.
Akhirnya, Hari Bumi bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi panggilan untuk bertindak. Umat Muslim seharusnya menjadi contoh dalam menjaga alam karena Islam mengajarkan keseimbangan, tanggung jawab, dan kepedulian. Bumi yang kita tempati hari ini bukan hanya warisan dari orang tua kita, tetapi juga titipan untuk anak cucu kita.
Menjaga bumi berarti menjaga kehidupan. Dan dalam Islam, menjaga kehidupan adalah bentuk ibadah.























