Implementasi program SANTER-TB Dinkesda Kabupaten Kepulauan Sangihe.
Sangihe, Ekuatornews.com – Upaya percepatan eliminasi Tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Kepulauan Sangihe memasuki babak baru.
Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Kabupaten Kepulauan Sangihe mulai mengimplementasikan Program SANTER-TB (Sistem Akselerasi Nusantara Tangguh Eliminasi Tuberkulosis) yang diawali dengan pelatihan kader kesehatan dan sosialisasi di tiga kecamatan pilot project, yakni Tahuna, Tahuna Timur, dan Tahuna Barat.
Pelatihan tersebut melibatkan kader kesehatan dari seluruh kelurahan di tiga kecamatan tersebut. Setiap kelurahan mengutus dua kader yang nantinya menjadi ujung tombak dalam pendampingan pasien TBC, edukasi masyarakat, hingga membantu penemuan kasus secara aktif di lapangan.
Kepala Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Kepulauan Sangihe, dr. Handry Pasandaran, ME, mengatakan program SANTER-TB merupakan langkah strategis untuk mendukung target eliminasi TBC tahun 2030 sebagaimana tertuang dalam Sustainable Development Goals (SDGs) dan Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis.
“Target eliminasi TBC semakin dekat. Karena itu kita tidak bisa hanya menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan. Kita harus aktif melakukan skrining, investigasi kontak, dan edukasi kepada masyarakat,” ujar Handry saat membuka kegiatan, Selasa (2/6/2026).
Menurutnya, Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan beban kasus TBC tertinggi di dunia. Karena itu, pengendalian penyakit menular yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis tersebut membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Handry menjelaskan, salah satu tantangan terbesar dalam pengendalian TBC adalah masih adanya pasien yang menghentikan pengobatan sebelum dinyatakan sembuh. Selain itu, sebagian keluarga maupun kontak erat pasien masih enggan mengikuti investigasi kontak yang dilakukan petugas kesehatan.
“Ketika ada satu pasien TBC ditemukan, maka orang-orang yang sering berinteraksi dengannya harus diperiksa. Mulai dari keluarga serumah, tetangga terdekat hingga rekan kerja. Ini penting untuk mencegah penularan lebih lanjut,” jelasnya.
Melalui program SANTER-TB, para kader akan dilibatkan secara aktif dalam seluruh tahapan penanganan TBC, mulai dari edukasi masyarakat, skrining, investigasi kontak, pendampingan pengobatan, hingga rehabilitasi sosial pasien pasca sembuh.
“Kader menjadi penghubung antara pasien, keluarga dan tenaga kesehatan. Mereka membantu mengurangi stigma, memastikan kepatuhan minum obat serta mendampingi proses pemulihan pasien sampai kembali diterima di lingkungan sosial,” katanya.
Selain pendekatan berbasis komunitas, program ini juga didukung pemanfaatan teknologi digital melalui aplikasi pemantauan pengobatan elektronik. Melalui fitur Electronic Directly Observed Treatment (e-DOT), pasien dapat merekam aktivitas minum obat dan mengunggahnya secara daring sehingga petugas kesehatan dapat memantau kepatuhan terapi secara real time.
Aplikasi tersebut juga menyediakan layanan konsultasi kesehatan yang dilengkapi fitur kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan chatbot untuk membantu pasien memperoleh informasi mengenai pengobatan maupun penanganan efek samping obat.
Data Dinkesda menunjukkan jumlah kasus TBC di Kabupaten Kepulauan Sangihe masih menjadi perhatian serius. Sepanjang tahun 2025 tercatat sebanyak 547 kasus. Sementara hingga Mei 2026, terdapat 162 kasus TBC sensitif obat dan 5 kasus TBC resisten obat, sehingga total pasien yang sedang menjalani penanganan mencapai 167 kasus.
Meski angka temuan kasus terus meningkat, Handry menegaskan hal tersebut tidak selalu menjadi indikator buruk. Menurutnya, peningkatan temuan kasus justru menunjukkan sistem deteksi dini dan skrining yang dijalankan pemerintah semakin efektif menjangkau masyarakat.
“Peningkatan kasus yang ditemukan justru menunjukkan sistem pencarian kasus berjalan lebih baik. Yang berbahaya adalah ketika kasus tidak ditemukan dan pasien tidak mendapatkan pengobatan,” tegasnya.
Ia menambahkan, keberhasilan eliminasi TBC tidak dapat dibebankan hanya kepada sektor kesehatan. Diperlukan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah daerah, dunia pendidikan, sektor swasta, organisasi masyarakat, tokoh agama, tokoh adat hingga lembaga perbankan.
“Eliminasi TBC adalah tanggung jawab bersama. Semakin banyak pihak yang terlibat, semakin besar peluang kita mencapai target eliminasi pada tahun 2030,” ujarnya.
Saat ini SANTER-TB masih berstatus proyek percontohan di tiga kecamatan. Namun jika hasil evaluasi menunjukkan dampak signifikan terhadap peningkatan penemuan kasus dan keberhasilan pengobatan pasien, program tersebut akan diperluas ke 14 kecamatan lainnya di Kabupaten Kepulauan Sangihe.
“Kami akan melakukan evaluasi menyeluruh. Jika program ini terbukti efektif, maka akan direplikasi ke seluruh wilayah Sangihe dengan berbagai penyempurnaan yang diperlukan,” pungkas Handry.
(*udy







