Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Sangihe, dr. Handry Pasandaran.
Ekuatornews.com — Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Sangihe terus mendorong masyarakat untuk memanfaatkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG), sebagai upaya mendeteksi secara dini berbagai risiko penyakit dan menjaga kondisi kesehatan masyarakat.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Sangihe, dr. Handry Pasandaran, mengatakan CKG merupakan salah satu dari delapan program hasil cepat atau Quick Wins pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Hal tersebut disampaikan Pasandaran saat ditemui Ekuatornews.com di ruang kerjanya, Selasa (11/8/2026).
Menurutnya, program CKG memberikan kesempatan kepada setiap warga negara, termasuk masyarakat di Kabupaten Kepulauan Sangihe, untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan secara gratis minimal satu kali dalam setahun.
“Program ini sangat baik karena memberikan kesempatan kepada seluruh masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara gratis minimal satu kali dalam setahun,” ujar Pasandaran.
Ia menjelaskan, pemeriksaan dalam program CKG cukup menyeluruh, mulai dari pemeriksaan kondisi kesehatan fisik hingga skrining terhadap berbagai penyakit berisiko tinggi, seperti gangguan kardiovaskular, kanker, penyakit metabolik, serta penyakit lainnya.
Pelaksanaan skrining tersebut dilakukan oleh tenaga kesehatan di tingkat Puskesmas.
Namun, berdasarkan evaluasi data Dinas Kesehatan melalui aplikasi ASIK, capaian CKG di sejumlah Puskesmas di Kabupaten Kepulauan Sangihe masih tergolong rendah.
Pasandaran menyebutkan, hingga Juli 2026 terdapat sejumlah Puskesmas yang telah mencapai cakupan di atas 50 persen.
Namun, masih ada beberapa Puskesmas yang cakupannya berada di bawah 20 persen, di antaranya Puskesmas Dagho, Puskesmas Marore, Puskesmas Salurang, serta Puskesmas Kahakitang yang dinilai belum optimal.
“Kami sementara mengevaluasi apakah kondisi ini disebabkan pelaksanaan di Puskesmas yang belum optimal atau karena dukungan lintas sektor dan partisipasi masyarakat yang masih rendah,” katanya.
Karena itu, Pasandaran mengimbau seluruh pihak, baik lintas sektor maupun masyarakat, untuk bersama-sama mendukung dan memanfaatkan program CKG.
Ia menilai pemeriksaan kesehatan secara rutin penting dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan sejak dini, termasuk mendeteksi penyakit yang mungkin belum menunjukkan gejala.
“Kalau kita melakukan skrining sejak dini, kita bisa mengetahui dan mengidentifikasi kondisi kesehatan. Ketika masih dalam kondisi ringan, kita bisa segera melakukan antisipasi dan pengobatan secara komprehensif,” jelasnya.
Selain masyarakat umum, program CKG juga menyasar anak-anak usia sekolah mulai dari tingkat SD hingga SMA. Namun, Pasandaran mengungkapkan cakupan skrining kesehatan bagi siswa di Sangihe saat ini masih sangat rendah, bahkan belum mencapai 10 persen dari target.
Untuk itu, ia meminta dukungan dari sektor pendidikan, termasuk Dinas Pendidikan, kepala sekolah, guru, serta orang tua siswa agar memberikan kesempatan kepada tenaga kesehatan melakukan skrining kesehatan di sekolah.
“Kami berharap para kepala sekolah, guru-guru dan orang tua murid dapat mendukung dan memberikan izin kepada anak-anak mereka untuk dilakukan skrining ketika petugas Puskesmas mengunjungi sekolah,” katanya.
Menurutnya, deteksi dini terhadap gangguan kesehatan pada anak sangat penting. Semakin cepat kelainan atau penyakit ditemukan, semakin cepat pula penanganan dapat diberikan.
“Kalau siswa kita skrining dan ternyata ada kelainan, semakin cepat kita tangani. Kalau terlambat diidentifikasi, bisa saja anak sudah dalam kondisi serius baru mendapatkan pengobatan sehingga prognosisnya menjadi kurang baik,” ujarnya.
Pasandaran menegaskan, pelaksanaan CKG tidak hanya dilakukan dengan menunggu masyarakat datang ke Puskesmas. Setiap bulan, Puskesmas melakukan koordinasi dengan berbagai pihak untuk menyusun jadwal kunjungan ke kelompok-kelompok masyarakat.
Kunjungan tersebut dapat dilakukan ke sekolah, tempat ibadah, kelompok masyarakat, hingga instansi pemerintah, sesuai dengan sasaran yang telah ditentukan.
“Setiap bulan Puskesmas melakukan koordinasi dengan lintas sektor. Apakah itu sekolah, gereja, masjid, masyarakat umum melalui Kapitalau atau lurah setempat, sudah disiapkan jadwal untuk dikunjungi,” jelasnya.
Menurut Pasandaran, petugas kesehatan juga menyasar kelompok masyarakat tertentu, seperti tokoh agama, pemuda, kelompok pekerja, perajin, buruh, maupun kelompok masyarakat lainnya.
Bahkan, Puskesmas di wilayah perkotaan turut melakukan pelayanan dengan mendatangi instansi pemerintah.
“Petugas Puskesmas masuk-keluar instansi pemerintah, baik di tingkat kecamatan, UPTD maupun dinas dan badan. Misalnya Puskesmas yang berada di ibu kota kabupaten seperti Puskesmas Tona, Manente dan Kolongan,” ungkapnya.
Pasandaran kembali mengajak seluruh masyarakat dan pihak terkait untuk secara sukarela mengikuti program CKG. Menurutnya, keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada partisipasi masyarakat dan dukungan lintas sektor.
“Sebagai Kepala Dinas Kesehatan, saya berharap seluruh segmen, baik masyarakat umum maupun siswa-siswa di sekolah, dapat memberikan diri dengan sukarela dan bekerja sama dengan tenaga kesehatan untuk menyukseskan program Cek Kesehatan Gratis,” pungkasnya.
(*Udy)


















