
Sangihe, Ekuatornews.com – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) TNI Angkatan Laut tahun ini dilaksanakan secara sederhana. Di tengah berbagai bencana yang melanda sejumlah wilayah Indonesia, momentum tersebut dimaknai sebagai bentuk kepedulian dan empati terhadap masyarakat yang sedang menghadapi musibah.
Sebagai bagian dari rangkaian peringatan, TNI AL melaksanakan Apel Siaga sebagai bentuk kesiapsiagaan sekaligus penguatan sinergi dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Dalam keterangannya, Danlanal Tahuna Kolonel Laut (P) Hadi Subandi, M.Tr.Hanla., CRMP menyampaikan kepada awak media Kamis (10/9/2026) bahwa pelaksanaan HUT yang biasanya berlangsung meriah kali ini sengaja dilakukan secara sederhana sebagai bentuk empati terhadap kondisi sejumlah daerah yang tengah dilanda bencana.
“Ini bentuk daripada kepedulian dari Angkatan Laut yang seyogianya HUT Angkatan Laut ini dilaksanakan secara meriah, pada saat ini kita laksanakan secara sederhana. Kita harus berempati karena banyak sekali wilayah-wilayah Negara Indonesia sedang mengalami musibah, seperti kebakaran hutan dan lahan,” ujarnya.
Di sisi lain, TNI AL juga terus memperkuat alat utama sistem persenjataan (alutsista) untuk menghadapi perkembangan tantangan keamanan yang semakin kompleks.
Ia menyebut, dalam beberapa waktu terakhir TNI AL mendapatkan tambahan sejumlah kapal. Setelah sebelumnya diperkuat KRI Brawijaya dan KRI Prabu Siliwangi, TNI AL juga tengah menyambut kedatangan kapal induk dari Italia yang direncanakan akan diberi nama KRI Gajah Mada.
“Alhamdulillah untuk saat ini alutsista kita semakin bertambah. Kalau tahun lalu kita sudah ditambah dengan KRI Brawijaya dan Prabu Siliwangi, saat ini kita kedatangan lagi kapal induk dari Italia, nanti insyaallah namanya KRI Gajah Mada,” katanya.
Menurutnya, penguatan alutsista menjadi penting mengingat tantangan pertahanan ke depan tidak lagi hanya berupa perang konvensional. Indonesia kini menghadapi ancaman yang lebih kompleks melalui pola perang hibrida.
“Sekarang untuk perang sudah masa perang hibrida. Sudah tidak konvensional seperti dahulu, seumpamanya penggunaan senjata secara frontal. Saat ini kita sudah masuk ke masa-masa perang hibrida,” jelasnya.
Ia menjelaskan, perang hibrida memungkinkan serangan dilakukan melalui berbagai aspek, tidak hanya menggunakan kekuatan fisik dan persenjataan, tetapi juga melalui ideologi, serangan siber, serta berbagai bentuk ancaman lainnya.
Dalam menjalankan tugas pokoknya, TNI AL tidak hanya berorientasi pada operasi militer perang (OMP), tetapi juga memiliki peran dalam operasi militer selain perang (OMSP), termasuk membantu pemerintah dan masyarakat ketika terjadi bencana alam.
Salah satu bentuk pelaksanaan OMSP tersebut adalah keterlibatan TNI AL dalam penanggulangan Karhutla bersama unsur TNI-Polri, pemerintah dan masyarakat.
“Untuk masa damai kita ada OMSP, Operasi Militer Selain Perang. Salah satunya kita juga sebagai kekuatan bantuan pada saat terjadi penanggulangan bencana alam,” ujarnya.
Ia menambahkan, penanganan Karhutla membutuhkan sinergi seluruh pihak. Karena itu, TNI AL bersama TNI-Polri, masyarakat dan para relawan terus bersatu dalam upaya memadamkan api dan mencegah meluasnya kebakaran.
“Kita bersama TNI-Polri, kita bersinergi dengan masyarakat, ada relawan. Kita bersama-sama bersatu padu untuk memadamkan api akibat Karhutla ini,” tambahnya.
Selain penanggulangan bencana, pengamanan wilayah perairan juga menjadi perhatian penting. Dengan luas wilayah laut Indonesia yang mencapai sekitar dua pertiga dari keseluruhan wilayah Indonesia, potensi terjadinya berbagai bentuk tindak kriminalitas di laut cukup besar.
Karena itu, TNI AL mengajak seluruh stakeholder dan masyarakat untuk menjadi mitra dalam menjaga keamanan wilayah perairan.
“Kita memang menjaga wilayah laut Indonesia yang dua per tiga luasan daripada wilayah Indonesia adalah wilayah perairan. Itu sangat luas sekali. Otomatis tindak kriminalitas sangat berpotensi,” ungkapnya.
Ia pun mengapresiasi peran masyarakat yang selama ini turut memberikan informasi terkait berbagai kejadian maupun potensi gangguan keamanan di wilayah perairan.
“Kami mengimbau kepada para stakeholder termasuk masyarakat sebagai rekan kerja kita di lapangan untuk memberikan informasi. Kemarin ada juga informasi atau kejadian, informasinya banyak dari masyarakat. Kami sangat berapresiasi. Terima kasih atas informasi yang ada di masyarakat,” tuturnya.
Dalam rangka mendukung kegiatan pengamanan dan pendampingan di lapangan, disebutkan pula adanya keterlibatan satu kompi dari unsur Karang Taruna dan Akademi Angkatan Laut (AAL).
Mereka mendapatkan pelatihan terkait pengawalan dan pendampingan dalam mendukung tugas TNI di lapangan.
Keterlibatan unsur masyarakat dan lembaga pendidikan militer tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesiapsiagaan serta memperkuat sinergi dalam mendukung tugas-tugas pengamanan dan pelayanan kepada masyarakat.
Dengan berbagai langkah tersebut, TNI AL menegaskan komitmennya untuk terus menjaga keamanan laut sekaligus hadir dalam membantu masyarakat, baik dalam menghadapi ancaman keamanan maupun ketika terjadi bencana.
Dalam Apel tersebut juga turut dihadiri Bupati Michael Thungari, Wakil Bupati Kepulauan Sangihe Tendris Bulahari serta tamu undangan lainnya.
(*udy)








