Bea Cukai Sulbagtara Tembus Rp 2,81 Triliun, Kinerja dan Ekspor 2025 Meroket

Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Sulbagtara, Erwin Situmorang.

Manado, 11 Januari 2026 — Kinerja Kanwil Bea Cukai Sulawesi Bagian Utara, Tengah, dan Gorontalo (Sulbagtara) sepanjang tahun 2025 terbilang cemerlang.

Tak hanya sukses menjaga pengawasan kepabeanan dan cukai, institusi ini juga berperan besar mendorong pertumbuhan ekonomi di tiga provinsi sekaligus.

Bea Cukai Sulbagtara membukukan penerimaan negara Rp 2,81 triliun, melampaui target 132 persen. Capaian tersebut menunjukkan kuatnya peran Bea Cukai sebagai revenue collector melalui penguatan pengawasan, sinergi dengan pemangku kepentingan, dan meningkatnya kepatuhan pelaku usaha.

Kinerja pengawasan juga tidak main-main. Sepanjang 2025, tercatat 618 penindakan, terdiri dari 461 kasus kepabeanan dan 143 penindakan di sektor cukai, dengan total nilai barang sekitar Rp 550 miliar.

Menariknya, penindakan MMEA ilegal dengan pendekatan ultimum remedium turut menghasilkan penerimaan negara Rp 7 miliar.

“Penegakan hukum tidak hanya soal tindakan tegas, tapi juga memberi dampak nyata bagi penerimaan negara,” tegas Kakanwil Bea Cukai Sulbagtara, Erwin Situmorang, dalam keterangannya.

Ekspor Terus Menguat, Sulut Melonjak 49 Persen

Kinerja ekspor di wilayah Sulbagtara ikut melesat. Data BPS hingga November 2025 menunjukkan:

  • Sulawesi Utara: nilai ekspor US$ 1,1 miliar (naik 49%)
  • Sulawesi Tengah: US$ 19,97 miliar (naik 3,6%)
  • Gorontalo: US$ 43,46 juta (naik 2,25%)

Komoditas utama yang mendominasi antara lain minyak nabati berbasis kelapa dan sawit, besi dan baja, molases, hingga produk perikanan. Produk-produk ini dipasarkan ke negara-negara kuat seperti Tiongkok, Vietnam, India, Korea Selatan, Taiwan, dan Jepang.

Tren ekspor di kawasan ini menunjukkan arah pemulihan yang stabil, meski tiap provinsi memiliki karakter industri yang berbeda.

Fasilitas Kepabeanan Dongkrak Daya Saing Industri

Dalam perannya sebagai trade facilitator, Bea Cukai Sulbagtara memberikan Fasilitas Kawasan Berikat kepada 11 perusahaan baru, serta mendukung pembentukan 1 Pusat Logistik Berikat (PLB) dan 1 Kawasan Pabean.

Total, hingga akhir 2025 terdapat 59 perusahaan yang menikmati fasilitas ini. Mereka bergerak di sektor strategis seperti hilirisasi tambang, kelapa, dan industri perikanan.

Dampaknya terasa nyata — biaya logistik lebih efisien, daya saing meningkat, lapangan kerja tumbuh, investasi baru berdatangan, dan multiplier effect ekonomi semakin besar.

Pertumbuhan Ekonomi Regional Ungguli Nasional

Data BPS 2025 menunjukkan ekonomi tiga provinsi di wilayah kerja Bea Cukai Sulbagtara tumbuh di atas rata-rata nasional:

  • Sulawesi Utara: 5,39% (yoy)
  • Gorontalo: 5,49% (yoy)
  • Sulawesi Tengah: 7,79% (yoy), salah satu tertinggi di Indonesia

Melihat capaian ini, Kepala Kanwil Bea Cukai Sulbagtara, Dr. Erwin Situmorang, menekankan pentingnya optimalisasi posisi strategis kawasan.

“Salah satu terobosan yang terus kami dorong adalah direct call pelayaran dari Bitung ke China dan Asia Timur. Ini akan memangkas waktu dan biaya logistik serta membuat ekspor kita lebih kompetitif,” ujar Erwin Situmorang.

Rencana direct call tersebut diharapkan mampu memperkuat rantai pasok, meningkatkan volume ekspor, dan mempercepat pertumbuhan ekonomi regional maupun nasional.

Dengan kombinasi pengawasan ketat dan fasilitasi yang pro-investasi, Bea Cukai Sulbagtara optimistis terus menjadi motor pendorong pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

(***/Enny)