Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Manado, Bart Assa.
Manado, EkuatorNews.com – Sorotan publik terhadap kinerja Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Manado belakangan ini mendapat tanggapan langsung dari Kepala Dinas, Bart Assa.
Menyusul sejumlah pemberitaan yang menyebut instansinya “hobi membuat sensasi”, pihak dinas menegaskan bahwa kerja pendidikan tidak lahir dari pencitraan, melainkan dari data dan kerja nyata di lapangan.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Manado, Bart Assa, mengatakan pihaknya menghormati setiap kritik yang disampaikan dalam ruang demokrasi. Menurutnya, kritik adalah bagian penting dari kontrol publik dan bahan evaluasi untuk perbaikan tata kelola.
“Kami bahkan berterima kasih atas perhatian tersebut. Sebagian kritik mungkin ada benarnya dan patut menjadi refleksi bagi kami. Namun jika ada informasi yang belum utuh, izinkan kami meluruskan agar masyarakat mendapat gambaran yang lebih berimbang,” ujar Assa.
Ia menjelaskan, pelayanan pendidikan di Kota Manado bukan perkara sederhana. Dinas harus menangani ratusan sekolah dengan persoalan yang berbeda-beda, mulai dari sarana prasarana, kualitas pembelajaran, kesejahteraan guru, hingga tata kelola pendidikan.
“Kami paham harapan masyarakat dan DPRD sangat besar. Tapi kami bukan Superman yang dalam lima bulan bisa mengubah seluruh sistem secara drastis. Kami bekerja sebagai Supertim bersama kepala sekolah, guru, dan seluruh jajaran untuk memperbaiki secara bertahap dan berkelanjutan,” tegasnya.
Menanggapi isu kesejahteraan guru, Assa menyebut pembahasan anggaran selalu dilakukan bersama DPRD, khususnya Komisi IV. Karena itu, jika ada anggapan kesejahteraan guru belum optimal, ia berharap disertai data pembanding yang jelas.
“Dengan pendekatan berbasis data, masyarakat bisa melihat persoalan pendidikan secara objektif, bagaimana kondisi sebelumnya dan bagaimana sekarang,” katanya.
Terkait infrastruktur, Disdikbud memaparkan sejumlah pekerjaan yang telah dilakukan sepanjang 2025. Pada jenjang SD, rehabilitasi gedung dan ruang belajar dilakukan di SD Negeri 02 Bunaken, SD Negeri 19 Manado, SD Negeri 24 Manado, SD Negeri 42 Manado, SD Negeri 49 Manado, dan SD Negeri 115 Manado. Pembangunan ruang baru juga dilakukan di SD Negeri 110 Manado.
Di tingkat SMP, rehabilitasi dilaksanakan di SMP Negeri 4 Manado dan SMP Negeri 12 Bunaken, serta pembangunan ruang baru di SMP Negeri 7 Manado. Untuk PAUD, rehabilitasi dilakukan di TK Negeri 1 Manado, sementara pembangunan TK Negeri 10 Manado bersumber dari dana revitalisasi pemerintah pusat dan dikelola sesuai mekanisme yang berlaku.
Selain sekolah, penataan kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan juga dilakukan, termasuk pemeliharaan bangunan dan penataan lingkungan sebagai bagian dari peningkatan pelayanan publik.
Memasuki 2026, tantangan semakin besar dengan adanya kebijakan efisiensi nasional yang berdampak pada pengurangan dana transfer ke daerah sekitar Rp42 miliar. Secara total, alokasi anggaran dalam DPA Disdikbud Manado turun sekitar Rp46 miliar dibandingkan 2025.
Meski demikian, Assa memastikan layanan dasar pendidikan tetap menjadi prioritas.
“Kami tetap mengalokasikan anggaran untuk rehabilitasi sekolah dan pengelolaan museum. Pendidikan dan kebudayaan harus tetap berjalan,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, ia menegaskan bahwa perubahan di dunia pendidikan tidak selalu tampil sensasional, tetapi lahir dari kerja konsisten dan kolaborasi semua pihak.
“Kami membuka ruang dialog dengan DPRD, guru, orang tua, masyarakat, dan media. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Jika diskusi dilakukan dengan data dan semangat membangun, kami yakin pendidikan di Kota Manado akan terus bergerak maju,” tutupnya.
(***/Enny)



























