Peresmian operasional perusahaan tersebut dihadiri oleh sejumlah petinggi Zhejiang Group dari Tiongkok, termasuk Direktur Zhenshi Group Wang Yuan, serta perwakilan pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah.
Morowali, EkuatorNews.com — Investasi industri makanan asal Tiongkok menambah warna baru dalam perkembangan industri di Morowali, Sulawesi Tengah. PT FreeNow Food Industry, bagian dari Zhejiang Group, resmi memulai operasionalnya di Morowali pada Senin (7/8/2026).
Peresmian operasional perusahaan tersebut dihadiri oleh sejumlah petinggi Zhejiang Group dari Tiongkok, termasuk Direktur Zhenshi Group Wang Yuan, serta perwakilan pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah.
Sebelum beroperasi di Indonesia, FreeNow telah memiliki lima pabrik di Tiongkok dengan total 19 lini produksi. Bersama fasilitas baru di Indonesia, kapasitas produksi FreeNow diharapkan mencapai 84.000 ton per tahun.
Kehadiran FreeNow menjadi bagian penting dari transformasi industri di Morowali yang selama ini lebih dikenal sebagai kawasan pengolahan nikel. Investasi di sektor makanan ini membuktikan adanya peluang besar pengembangan hilirisasi pada komoditas non-mineral.
Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani, menyampaikan bahwa pemerintah terus membuka peluang investasi dari berbagai sektor untuk memperkuat ekosistem industri nasional.
“Kehadiran FreeNow diharapkan ikut memperkuat ekosistem industri kelapa di Indonesia. Kita membuka peluang bagi semua investor dari berbagai sektor untuk dapat tumbuh bersama Indonesia,” ujar Rosan melalui konferensi video dalam acara peresmian.
Menurut Rosan, pengembangan agenda hilirisasi tidak boleh terbatas pada sektor pertambangan. Komoditas pertanian dan perkebunan memiliki peluang besar untuk diolah di dalam negeri guna menghasilkan nilai tambah (added value) yang lebih tinggi.
Morowali Mulai Beragam: Sektor Makanan Jadi Magnet Baru
Kepala Bidang Fasilitas Kanwil Bea Cukai Sulbagtara, Adeltus Lolok, mengungkapkan bahwa masuknya FreeNow menunjukkan diversifikasi sektor industri yang kian berkembang pesat di Morowali.
“Morowali sekarang bukan hanya soal nikel, tetapi kini menarik industri yang sangat berbeda, yaitu sektor makanan. Fasilitasi kepabeanan terbukti dapat menjadi magnet industri yang beragam,” kata Adeltus.
Dari sekitar 90 perusahaan yang beroperasi di Morowali, sebanyak 49 perusahaan telah memanfaatkan fasilitas Kawasan Berikat dari Bea Cukai. Pemanfaatan fasilitas ini menunjukkan pentingnya kepabeanan dalam mendukung rantai pasok lintas negara. Fasilitas Kawasan Berikat memberikan kepastian, kemudahan kepabeanan, serta efisiensi perpajakan bagi industri orientasi ekspor maupun pengguna bahan baku internasional.
Hilirisasi Kelapa dan Dampak Ekonomi Daerah
Berbeda dari pengolahan nikel, FreeNow bergerak di sektor makanan dan diharapkan dapat memperkuat industri hilir berbasis kelapa. Pengolahan kelapa memperpanjang rantai nilai komoditas—dari sekadar bahan mentah menjadi produk bernilai tinggi. Aktivitas ini turut memicu ekonomi turunan, mulai dari pasokan bahan baku, logistik, pengemasan, hingga jasa pendukung lainnya.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah melalui Asisten Bidang Perekonomian Abdul Raaf Malik (mewakili Gubernur Anwar Hafid) menyambut hangat investasi ini. Pemprov berharap hadirnya FreeNow dapat memperluas sumber pertumbuhan ekonomi, menyerap tenaga kerja lokal, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sulawesi Tengah.
(***/Enny)















