Lembaga Pemangku Adat Bantik Malalayang melalui Panitia Peringatan ke-77 Gugurnya Pahlawan Robert Wolter Mongisidi dan Festival Seni Budaya Bantik (FSSB) menyerahkan sebuah palakat kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, Senin (5/10/2026).
Manado, EkuatorNews.com — Momentum Festival Seni Budaya Bantik dan peringatan ke-77 gugurnya Pahlawan Nasional Robert Wolter Mongisidi meninggalkan kesan mendalam.
Bukan hanya sukses menjadi ruang pelestarian budaya, kegiatan tersebut juga membuka harapan baru agar budaya Bantik mendapat tempat lebih besar dalam agenda kebudayaan resmi Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara.
Sebagai bentuk apresiasi atas dukungan pemerintah, Lembaga Pemangku Adat Bantik Malalayang melalui Panitia Peringatan ke-77 Gugurnya Pahlawan Robert Wolter Mongisidi dan Festival Seni Budaya Bantik (FSSB) menyerahkan sebuah palakat kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, Senin (5/10/2026).
Palakat tersebut berisi ucapan apresiasi dan terima kasih atas segala bentuk dukungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara terhadap pelaksanaan Festival Seni Budaya Bantik dan Peringatan ke-77 Tahun Gugurnya Pahlawan Nasional Robert Wolter Mongisidi Tahun 2026.
Penyerahan palakat dilakukan langsung oleh Ketua Harian Lembaga Pemangku Adat Bantik Malalayang, Fanly Pongajouw, S.T.
Dalam pertemuan sederhana tersebut, Fanly menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara atas dukungan serta keterlibatan dalam menyukseskan kegiatan budaya Bantik.
Apresiasi juga disampaikan Albert Mokodongan, S.E., yang mewakili 11 kampung Bantik. Ia mengungkapkan rasa syukur karena Festival Seni Budaya Bantik dapat berlangsung dengan baik dan mendapat dukungan pemerintah.
Salah satu momen yang paling membahagiakan bagi warga Bantik yang hadir adalah kesempatan mengabadikan foto bersama Sekretaris Provinsi Sulawesi Utara, Thalis Galang, yang turut menjadi bagian penting dalam pertemuan tersebut.
DORONG FESTIVAL BANTIK MASUK AGENDA RESMI PEMPROV
Sementara itu, Juvani Mongan, salah satu pengarah acara FSSB sekaligus Ketua Umum Bantik Masuinsau Su Sasengkoang (BMSS), menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan yang diberikan.
Menurutnya, keberadaan sosok dari suku Bantik yang kini menduduki jabatan tinggi sebagai ASN di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara menjadi sebuah kebanggaan sekaligus energi positif bagi masyarakat Bantik.
Namun, Juvani berharap Festival Seni Budaya Bantik tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata.
Ia mendorong agar festival tersebut ke depan dapat menjadi bagian dari agenda atau event budaya resmi Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, sehingga pelestarian budaya Bantik dapat dilakukan secara berkelanjutan dan semakin dikenal luas.
Harapan tersebut mendapat respons positif. Dalam kesempatan itu, Sekprov Sulut Thalis Galang SIP MM mengiyakan usulan tersebut.
Tak hanya itu, Thalis juga mengusulkan agar sejarah dan budaya Bantik dapat ditampilkan dalam Museum Provinsi Sulawesi Utara.
Usulan ini dinilai menjadi langkah penting untuk memastikan sejarah, identitas, serta warisan budaya Bantik tidak hanya dikenang oleh generasi sekarang, tetapi juga dapat dipelajari dan dikenal oleh generasi mendatang.
Pertemuan tersebut turut dihadiri Riedel Sanny Mongisidi, S.E., M.M., Hart Nonne, dan Moldy Sege.
Momentum ini pun menjadi harapan baru bagi masyarakat Bantik: bahwa Festival Seni Budaya Bantik bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan dapat berkembang menjadi bagian dari perjalanan kebudayaan Sulawesi Utara.
Budaya bukan hanya tentang masa lalu. Budaya adalah identitas yang harus dijaga, diwariskan, dan dibawa menuju masa depan.
(Moldy)















