Meriah! Festival Seni Budaya Bantik di Megamas Dihadiri Ribuan Warga dan Keluarga Pahlawan RW Mongisidi

Kemeriahan Festival Seni Budaya Bantik di Kompleks Pohon Kasih, Kompleks Megamas Manado, Sabtu (5/9/2026).

Manado, EkuatorNews.com — Kawasan Pohon Kasih, Kompleks Megamas Manado, mendadak jadi panggung besar budaya Bantik, Sabtu (5/9/2026).

Ribuan masyarakat adat Bantik dari 11 desa dan kampung di Sulawesi Utara berkumpul dalam Festival Seni Budaya Bantik sekaligus peringatan 77 tahun gugurnya Pahlawan Nasional Robert Wolter Mongisidi.

Beragam atraksi budaya ikut memeriahkan kegiatan tersebut. Mulai dari tarian khas Bantik, pentas teater yang mengangkat kisah perjuangan Robert Wolter Mongisidi, hingga aksi paramotor yang membuat festival semakin semarak.

Wakil Wali Kota Manado, dr. Richard Sualang, menyampaikan apresiasi Pemerintah Kota Manado terhadap pelaksanaan festival tersebut.

“Atas nama Pemerintah Kota Manado, Bapak Wali Kota Andrei Angouw beserta seluruh jajaran menyampaikan apresiasi dan terima kasih setinggi-tingginya kepada panitia penyelenggara,” kata Richard.

Menurutnya, kegiatan seperti ini bukan sekadar menampilkan seni dan budaya, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat hubungan kekeluargaan masyarakat Bantik.

“Ini tentu memperkuat persaudaraan dan kerukunan di antara anak suku Bantik yang tersebar di Sulawesi Utara,” ujarnya.

Sementara itu, mewakili Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus SE, Sekretaris Daerah Provinsi Sulut, Tahlis Gallang, S.IP., M.M., turut memberikan apresiasi terhadap festival tersebut.

Tahlis menilai Festival Seni Budaya Bantik punya makna yang lebih luas. Menurutnya, budaya Bantik tidak hanya terus dipertahankan, tetapi juga semakin dikenal hingga ke berbagai penjuru dunia.

“Bantik ini bukan hanya ada di 11 desa di Sulawesi Utara, tetapi sudah melebar. Di Papua, Australia, Amerika, hingga Prancis sudah ada komunitas Bantik,” ungkap Tahlis.

“Bantik sudah mendunia, ini luar biasa,” tegasnya.

Ia pun memberikan apresiasi kepada panitia dan lembaga adat yang selama ini konsisten menjaga eksistensi budaya Bantik di tengah perkembangan zaman.

Namun, Tahlis mengingatkan agar peringatan 77 tahun gugurnya Robert Wolter Mongisidi tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.

Menurutnya, semangat perjuangan Robert Wolter Mongisidi harus terus diwariskan kepada generasi muda.

“Peringatan 77 tahun gugurnya Robert Wolter Mongisidi kita ambil maknanya, bukan sekadar seremonial upacara atau acara,” katanya.

Ia menekankan semboyan perjuangan Robert Wolter Mongisidi, “Setia hingga terakhir dalam keyakinan”, harus tetap menjadi inspirasi bagi generasi penerus.

“Bagaimana gelora semangatnya dengan semboyan ‘Setia hingga terakhir dalam keyakinan’ tetap harus membara di dalam hati seluruh generasi muda,” ujarnya.

Festival yang berlangsung meriah di tengah cuaca cerah itu turut dihadiri Wakil Wali Kota Manado dr. Richard Sualang, jajaran Forkopimda Sulut dan Kota Manado, Ketua Lembaga Pemangku Adat Bantik Malalayang Pdt. Dr. Max E. Tengkue, para ketua dewan adat dari 11 desa Bantik, serta keluarga Pahlawan Nasional Robert Wolter Mongisidi.

Hadir pula adik kandung Robert Wolter Mongisidi, Letkol (Purn) Robby Mongisidi.

Menariknya, keluarga besar Bantik yang hadir tidak hanya datang dari Sulawesi Utara. Sejumlah tamu dan keluarga Bantik juga datang dari Papua hingga mancanegara.

Festival ini pun menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa budaya Bantik masih hidup, terus berkembang, dan mampu menyatukan masyarakat lintas daerah bahkan lintas negara.

(Enny)