
Foto ist.
Jakarta, EkuatorNews.com – PT TransContinent makin serius menggarap pasar Indonesia Timur.
Dalam rilis yang diterima EkuatorNews.com, Selasa (10/2/2026), menjelaskan bahwa perusahaan logistik ekspor-impor ini resmi mengoperasikan Pusat Logistik Berikat (PLB) di Provinsi Gorontalo sebagai langkah strategis memperkuat rantai pasok di kawasan Tengah dan Timur Indonesia.
Kehadiran PLB ini diharapkan jadi game changer bagi pelaku usaha di daerah yang selama ini masih bergantung pada pelabuhan utama di Pulau Jawa untuk aktivitas ekspor-impor.
PLB sendiri merupakan fasilitas fiskal dari Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Fasilitas ini memungkinkan barang impor maupun ekspor ditimbun hingga tiga tahun dengan penangguhan bea masuk dan pajak.
Artinya, pelaku usaha punya fleksibilitas lebih dalam mengatur arus barang sekaligus menekan biaya logistik.
Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Sulawesi Bagian Utara, Zaky Firmansyah, menegaskan dukungan penuh terhadap operasional PLB TransContinent di Gorontalo.
“Kami sangat mendukung PT TransContinent untuk menghadirkan layanan logistik yang kuat, khususnya bagi kawasan Tengah dan Timur Indonesia. Namun demikian, kami juga menekankan pentingnya kepatuhan terhadap ketentuan dan regulasi yang berlaku dalam pelaksanaan usaha,” ujar Zaky.
Senada dengan itu, Kepala Bea Cukai Gorontalo, Ade Zirwan, menyebut kehadiran PLB ini sebagai langkah strategis untuk meningkatkan daya saing pelaku usaha lokal.
“Kehadiran PLB TransContinent merupakan langkah penting untuk memberikan dukungan nyata bagi pelaku ekspor impor dan pelaku usaha lokal. Fasilitas ini akan membantu dunia usaha dalam mengelola logistik secara lebih efisien, cepat, dan kompetitif,” kata Ade.
CEO PT TransContinent, Ismail Rasyid, menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah pusat dan daerah, termasuk Bea Cukai dan Pemerintah Provinsi Gorontalo.
“Kami berharap keberadaan PLB di Gorontalo dapat mempercepat proses ekspor impor di kawasan Timur Indonesia, yang selama ini masih sangat bergantung pada pelabuhan utama di Pulau Jawa. Dukungan dari Pemerintah Provinsi Gorontalo dan Bea Cukai menjadi faktor penting dalam pengembangan layanan ini,” ujar Ismail.
Ia menambahkan, dengan aktifnya PLB tersebut, pengiriman langsung (direct shipment) dari luar negeri ke Gorontalo bisa dilakukan tanpa harus transit di Jawa.
Rantai logistik pun menjadi lebih pendek, cepat, dan efisien.
Tak hanya fokus pada logistik, TransContinent juga menanamkan investasi besar di Gorontalo.
Perusahaan ini mengelola lahan seluas 18 hektare untuk berbagai kegiatan usaha, mulai dari penggemukan sapi, pembangunan pabrik virgin coconut oil (VCO), pengolahan nilam, hingga industri turunan kelapa seperti arang dan karbon aktif. Investasi ini diyakini akan membuka lapangan kerja baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Secara bisnis, TransContinent bukan pemain kecil.
Perusahaan ini memiliki sekitar 400 karyawan, lebih dari 300 armada darat, 22 cabang di Indonesia, serta dua cabang di Australia dan Filipina.
Bahkan, mereka menjadi perusahaan logistik pertama di Indonesia yang mengantongi sertifikasi pengangkutan sianida untuk kebutuhan industri pertambangan emas.
Dari sisi ekonomi daerah, Gorontalo memang sedang menunjukkan tren positif. Data BPS mencatat nilai ekspor Gorontalo pada November 2025 mencapai sekitar US$8,35 juta, meningkat signifikan dibanding bulan sebelumnya.
Komoditas unggulan seperti pelet kayu dan produk turunan pertanian menjadi penopang utama, disusul sektor pertambangan dan penggalian.
Dengan infrastruktur logistik yang makin kuat lewat kehadiran PLB TransContinent, Gorontalo kini bersiap mengambil peran lebih besar sebagai simpul perdagangan dan distribusi di Indonesia Timur.
Jika konsisten dijalankan, langkah ini bukan hanya mempercepat arus barang, tapi juga mempercepat pertumbuhan ekonomi kawasan.









