Bird Photographer Malaysia Jadikan Sangihe Spot Rutin Perburuan Foto Burung

Sangihe887 Dilihat

 

 

 

 

Ekuatornews.com. – Setelah kedatangan tujuh wisatawan mancanegara asal Inggris, Belanda, Amerika Serikat, dan Prancis pekan lalu, Kabupaten Kepulauan Sangihe kembali disambangi tiga wisatawan asal Malaysia di akhir pekan ini.

 

Ketiganya merupakan anggota komunitas Pitta Chase, pecinta burung pitta, salah satu spesies burung yang dapat dijumpai di Sangihe. Ketua rombongan, Apiq Sulaiman, menjelaskan bahwa komunitas mereka fokus berburu foto burung pitta di berbagai belahan dunia.

 

“Di dunia ada 52 jenis burung pitta, dan sekitar 30 jenis ada di Indonesia, termasuk di Sangihe. Saya pribadi sudah mengoleksi foto 26 dari 52 spesies tersebut,” ujar Apiq.

 

Berbeda dengan pengamat burung (bird watcher), rombongan ini lebih senang disebut bird photographer. Mereka tidak hanya mengamati, tetapi juga berburu momen terbaik untuk mengabadikan satwa, terutama jenis pitta.

 

Dalam diskusi bersama Asisten I Setda Sangihe, Johanis Pilat, Apiq menyampaikan kekagumannya terhadap kekayaan hayati pulau tersebut. Ia menilai Sangihe memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi pelancongan minat khusus atau avitourism.

 

“Bayangkan, pulau sekecil ini punya 10 spesies burung endemik, ditambah satwa lain seperti tarsius, kuskus, katak, kupu-kupu, dan banyak lagi. Potensi Sangihe bisa mengalahkan Cagar Alam Tangkoko di Bitung,” ungkapnya.

 

Menurut Apiq, keunggulan Sangihe tidak hanya pada keragaman hayati, tetapi juga kemudahan akses saat pengamatan burung. “Contohnya di mess Burung Indonesia, kurang dari lima menit burung hantu sudah muncul,” katanya.

 

Selain itu, ia menilai fasilitas akomodasi, transportasi, hingga kuliner di Sangihe cukup memadai sehingga memberi rasa aman dan nyaman bagi wisatawan. Namun, ia menyayangkan masih adanya aktivitas perburuan satwa di beberapa lokasi.

 

“Saat pengamatan di Malebur, saya melihat warga membawa senapan untuk berburu burung. Pemerintah perlu memberi perhatian serius, mulai dari sosialisasi di sekolah hingga masyarakat luas. Masyarakat Sangihe harus bangga dengan satwa dan alam mereka,” tegas Apiq.

 

Dalam kunjungan singkat dua hari satu malam, rombongan berhasil memotret empat spesies, yakni Sangihe Pitta (Lehangi), Western Hooded Pitta (Kupaw), Sangihe Scops Owl (Tana Lawo), dan Sangihe Hanging Parrot (Lungsihe).

 

Saat ditanya kemungkinan kembali ke Sangihe, Apiq memastikan peluang itu sangat besar.

“Berbeda dengan pengamat burung, kami selalu ingin memperbaiki hasil foto. Jika sudah punya foto burung pita bertengger, kami akan kembali untuk memotret saat terbang, makan, atau memberi makan anak di sarang. Bahkan saat ada kamera baru, kami penasaran bagaimana hasilnya. Jadi kemungkinan besar Sangihe akan jadi spot rutin kami,” tutupnya.

 

Viky Sinadia