KAIMANA, EkuatorNews.com – Kekeringan yang melanda Kabupaten Kaimana mulai berdampak serius terhadap sektor pertanian. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kaimana memperkirakan produksi pala mengalami penurunan antara 25 hingga 40 persen di seluruh wilayah Kabupaten Kaimana.
Selain pala, tanaman semusim seperti sayuran juga mengalami penurunan produksi yang cukup signifikan. Berdasarkan hasil pemantauan sementara, produksi tanaman semusim telah turun lebih dari 50 persen dan berpotensi mengalami gagal panen apabila kondisi kekeringan terus berlangsung.
Kepala DKPP Kaimana, Alexander Furay, mengatakan hasil survei mengenai dampak kekeringan telah rampung dan akan menjadi bahan pembahasan bersama para kepala bidang untuk menentukan langkah penanganan.
“Untuk sementara kita pastikan ada penurunan produksi, terutama pala. Ada penurunan produksi dan penurunan luas areal karena kekeringan. Kemudian ada gagal panen, kerusakan tanaman dan penurunan produksi, terutama tanaman sayuran,” kata Alexander saat diwawancarai di ruang kerjanya, Selasa (15/9/2026).
Ia menjelaskan, berdasarkan penilaian terhadap sejumlah sampel, penurunan produksi pala diperkirakan mencapai 25 hingga 40 persen di seluruh wilayah Kaimana. Sementara terkait penurunan luas areal perkebunan pala, DKPP masih melakukan analisis lebih lanjut.
“Penurunan produksi pala, melalui penilaian sampel diperkirakan berkurang 25 sampai 40 persen di seluruh Kabupaten Kaimana. Sementara penurunan perluasan areal masih dianalisis,” jelasnya.
Menurut Alexander, tanaman semusim menjadi salah satu komoditas yang paling terdampak akibat keterbatasan air. Penurunan produksinya telah mencapai lebih dari 50 persen, bahkan potensi gagal panen cukup tinggi apabila kekeringan tidak segera tertangani.
“Tanaman semusim lebih dari 50 persen, bahkan potensi gagal panen juga tinggi,” ujarnya.
Alexander mengatakan persoalan utama yang ditemukan di lapangan adalah keterbatasan sumber air. Karena itu, penyediaan sarana pengairan menjadi salah satu langkah yang dinilai mendesak untuk dilakukan.
DKPP, kata dia, akan mendorong pembangunan titik-titik sumber air maupun sumur bor di lokasi yang membutuhkan. Selain membantu memenuhi kebutuhan air petani, keberadaan sumber air juga dapat menjadi cadangan apabila sewaktu-waktu terjadi kebakaran.
“Kesimpulannya, penyebabnya air. Sehingga solusi yang kita coba angkat, di setiap titik kalau bisa ada pengairan atau sumur bor,” katanya.
Keberadaan titik sumber air juga dinilai dapat membantu petugas pemadam kebakaran memperoleh pasokan air di sekitar lokasi kejadian, sehingga kebutuhan droping air dapat dikurangi.
Untuk merealisasikan langkah tersebut, DKPP akan berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) guna melakukan kajian cepat terhadap sejumlah titik yang berpotensi dibangun sumur bor.
Di samping dampak terhadap produksi pertanian, Alexander mengingatkan kekeringan juga berpotensi memengaruhi kondisi ekonomi masyarakat. Penurunan produksi pangan lokal dapat berdampak terhadap ketersediaan dan harga bahan pangan di pasaran.
Menurutnya, apabila produksi pertanian menurun secara signifikan sementara kebutuhan masyarakat tetap tinggi, kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga pangan dan memicu inflasi.
“Risiko lain dari kekeringan dapat memicu inflasi yang tidak terkendali,” tegasnya.
Untuk tanaman pala yang mengalami kerusakan, DKPP juga menyiapkan langkah penanganan melalui pendataan petani sebagai dasar pengusulan bantuan bibit untuk program penanaman kembali pada tahun berikutnya.
Petani yang tanaman palanya mengalami kekeringan hingga mati akan diminta melakukan pendaftaran dengan membawa KTP, foto kondisi kebun, serta data jumlah pohon yang mengalami kerusakan.
“Sekarang mendaftar dulu. Nanti kita lihat rekomendasi programnya tahun depan. Dari situ kita bisa lihat berapa pohon yang harus diganti dan berapa luas areal yang berkurang,” jelasnya.
Alexander mengatakan penanaman kembali tidak dapat dilakukan secara terburu-buru di tengah kondisi kekeringan. Penanaman bibit pala sebaiknya dilakukan ketika memasuki musim hujan agar tanaman memiliki peluang tumbuh dengan baik.
Selain itu, DKPP berencana menyusun kalender tanam dengan mempertimbangkan kondisi cuaca dan musim. Kalender tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat menentukan waktu tanam yang lebih tepat sekaligus mengurangi risiko gagal panen akibat kekeringan.
Alexander menegaskan, kondisi kekeringan membutuhkan penanganan serius melalui koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD). Menurutnya, persoalan tersebut tidak hanya menyangkut sektor pertanian, tetapi juga berkaitan dengan ketersediaan air, ketahanan pangan dan kondisi ekonomi masyarakat.
“Kita harap ada koordinasi cepat lintas OPD, sehingga ada tindakan sekaligus antisipasi untuk hari-hari ke depan menghadapi kekeringan ini,” pungkasnya.
(REI RUMLUS)












