MANGGARAI TIMUR, EkuatorNews.com – Keluarga Alumni Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Yogyakarta “Santo Thomas Aquinas” (KAMI) bekerja sama dengan relawan setempat menggelar kegiatan trauma healing bagi 60 anak korban gempa bumi di Stasi Yohanes Rasul Wano, Paroki Mbata, Keuskupan Ruteng, Kecamatan Kota Komba Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.
Kegiatan yang melibatkan para pendamping Sekami tersebut dilaksanakan dalam tiga tahap, yakni pada 25 Oktober, 27 Oktober, dan 1 November 2026. Program ini bertujuan membantu memulihkan kondisi psikologis anak-anak serta mengembalikan rasa aman, ketenangan, dan kepercayaan diri setelah mengalami trauma akibat gempa bumi yang mengguncang Pulau Flores.
Sebelum pelaksanaan kegiatan di lapangan, para relawan terlebih dahulu mengikuti pembekalan mengenai penanganan trauma anak yang diberikan oleh para psikolog melalui pertemuan daring (Zoom Meeting) pada 18 Oktober 2026.
Gempa bumi berkekuatan awal magnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores pada 15 Agustus 2026, disusul ribuan gempa susulan hingga Oktober 2026, telah menimbulkan berbagai dampak bagi masyarakat, mulai dari kerusakan infrastruktur hingga gangguan psikologis. Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang membutuhkan perhatian khusus dalam proses pemulihan pascabencana.
Menanggapi kondisi tersebut, KAMI Yogyakarta bersama para relawan setempat berinisiatif menghadirkan kegiatan pemulihan psikologis melalui berbagai permainan edukatif dan aktivitas kreatif yang disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak.
Pada tahap pertama, yang dilaksanakan Minggu, 25 Oktober 2026, anak-anak mengikuti permainan lari karung dan refleksi pengalaman selama menghadapi gempa. Kegiatan ini bertujuan melatih kekuatan otot, konsentrasi, membangun kepercayaan diri, serta membantu anak-anak merefleksikan pengalaman mereka ketika menghadapi bencana.
Selanjutnya, pada tahap kedua, Selasa, 27 Oktober 2026, kegiatan diisi dengan aktivitas menggambar. Melalui kegiatan tersebut, anak-anak diberikan ruang untuk mengekspresikan perasaan, pengalaman, dan kreativitas mereka melalui gambar.
Sementara itu, tahap ketiga dilaksanakan pada Minggu, 1 November 2026, dengan permainan memindahkan karet menggunakan korek api. Permainan ini disambut penuh kegembiraan oleh anak-anak yang mengikuti kegiatan tersebut.
Selain mengikuti berbagai permainan dan aktivitas pemulihan psikologis, setiap anak juga mendapatkan bantuan berupa buku tulis, alat tulis, dan susu kotak setelah kegiatan berlangsung.
Melalui program trauma healing ini, KAMI Yogyakarta bersama para relawan berharap anak-anak korban gempa di Wano dapat kembali memperoleh ketenangan psikologis, membangun rasa percaya diri, serta perlahan pulih dari pengalaman traumatis akibat bencana gempa bumi.
(***/RIZKY AMERBAY)
















